Search This Blog

December 29, 2009

Yohanes Calvin (10 Juli 1509 – 27 Mei 1564)

Yohanes Calvin (10 Juli 1509 – 27 Mei 1564) adalah teolog Kristen Prancis terkemuka pada masa Reformasi Protestan. Namanya kini dikenal dalam kaitan dengan sistem teologi Kristen yang disebut Calvinisme. Ia dilahirkan dengan nama Jean Chauvin (atau Cauvin) di Noyon, Picardie, Prancis, dari Gérard Cauvin dan Jeanne Lefranc. Bahasa Prancis adalah bahasa ibunya. Calvin berasal dari versi Latin namanya, Calvinus. Martin Luther memasang 95 dalil pada 1517, ketika Calvin baru berumur 8 tahun.

Biografi
Calvin muda

Pada 1523, dalam usia 14 tahun, ayah Calvin, seorang pengacara, mengirimnya ke Universitas Paris untuk belajar humaniora dan hukum. Pada tahun 1532, ia telah menjadi Doktor Hukum di Orléans. Terbitannya yang pertama adalah sebuah edisi dari buku karya filsuf Romawi Seneca, De clementia, yang diberikannya komentar yang mendalam.
Pada 1536 ia menetap di Jenewa, ketika ia dihentikan dalam perjalannya ke Basel, oleh bujukan pribadi dari William Farel, seorang reformator. Ia menjadi pendeta di Strasbourg dari 1538-1541, lalu kembali ke Jenewa. Ia tinggal di sana hingga kematiannya pada 1564.
Yohanes Calvin berniat menikah untuk menunjukkan sikap positifnya terhadap pernikahan daripada kehidupan selibat. Ia meminta teman-temannya menolongnya mencarikan seorang perempuan yang "sederhana, taat, tidak sombong, tidak boros, sabar, dan bisa merawat kesehatan saya." Pada 1539 ia menikah dengan Idelette de Bure, janda seseorang yang dulunya anggota Anabaptis di Strasbourg. Idelette mempunyai seorang anak laki-laki dan perempuan dari almarhum suaminya. Namun hanya anak perempuannya yang pindah bersamanya ke Jenewa. Pada 1542, suami-istri Calvin mendapatkan seorang anak laki-laki yang dua minggu kemudian meninggal dunia. Idelette Calvin meninggal pada 1549. Calvin menulis bahwa istrinya telah banyak menolongnya dalam pelayanan gerejanya, tidak pernah menghalangi, tidak pernah menyusahkannya dengan urusan anak-anaknya dan berjiwa besar.
[sunting]
Tulisan-tulisan Calvin
Calvin menerbitkan beberapa revisi dari Institutio, sebuah karya yang menjadi dasar dalam teologi Kristen yang masih dibaca hingga sekarang. Tulisan ini dibuatnya dalam bahasa Latin pada 1536 (pada usia 26 tahun) dan kemudian dalam bahasa ibunya, bahasa Prancis, pada 1541, dan edisi finalnya masing-masing muncul pada tahun 1559 dan 1560.
Ia juga banyak menulis tafsiran tentang kitab-kitab di dalam Alkitab. Untuk Perjanjian Lama, ia menerbitkan tafsiran tentang semua kitab kecuali kitab-kitab sejarah setelah Kitab Yosua (meskipun ia menerbitkan khotbah-khotbahnya berdasarkan Kitab 1 Samuel dan sastra Hikmat kecuali Mazmur. Untuk Perjanjian Baru, ia melewatkan Surat 2 Yohanes dan Surat 3 Yohanes serta Kitab Wahyu. (Sebagian orang mengatakan bahwa Calvin mempertanyakan kanonisitas Kitab Wahyu, tetapi ia mengutipnya dalam tulisan-tulisannya yang lain dan mengakui otoritasnya, sehingga teori itu diragukan.) Tafsiran-tafsiran ini pun ternyata tetap berharga bagi para peneliti Alkitab, dan setelah lebih dari 400 tahun masih terus diterbitkan.
Dalam jilid ke-8 dari Sejarah Gereja Kristen karya Philip Schaff, sang sejarahwan mengutip teolog Belanda Jacobus Arminius (Arminianisme, sebuah gerakan anti-Calvinis, dinamai sesuai dengan nama Arminius), sehubungan dengan nilai tulisan-tulisan Calvin:
Selain mempelajari Alkitab yang sangat saya anjurkan, saya mengimbau murid-murid saya untuk memanfaatkan Tafsiran-tafsiran Calvin, yang saya puji jauh melebihi Helmich (seorang tokoh gereja Belanda, 1551-1608); karena saya bahwa ia sungguh tidak tertandingi dalam penafsiran Kitab Suci, dan bahwa tafsiran-tafsirannya harus jauh lebih dihargai daripada semua yang telah diwariskan kepada kita oleh khazanah para Bapak Gereja; sehingga saya mengakui bahwa ia memiliki jauh dari kebanyakan orang lain, atau lebih tepatnya, jauh melampaui semua orang, apa yang dapat disebut semangat nubuat yang menonjol. Institutio-nya harus dipelajari setelah Katekismus Heidelberg, karena mengandung penjelasan yang lebih lengkap, namun, seperti tulisan-tulisan semua orang, juga mengandung prasangka.

 

Penyebaran Calvinisme
Lukisan gravir dari lukisan minyak asli di Perpustakaan Universitas Jeneva; lukisan ini dianggap paling mirip dengan Calvin.
Sebagaimana praktik Calvin di Jenewa, terbitan-terbitannya menyebarkan gagasan-gagasannya tentang bagaimana Gereja Reformasi yang benar itu ke banyak bagian Eropa. Calvinisme menjadi sistem teologi dari mayoritas Gereja Kristen di Skotlandia, Belanda, dan bagian-bagian tertentu dari Jerman dan berpengaruh di Prancis, Hongaria (khususnya di Transilvania dan Polandia.
Kebanyakan kolonis di daerah Atlantik Tengah dan New England di Amerika adalah Calvinis, termasuk kaum Puritan dan para kolonis di New Amsterdam (New York). Para kolonis Calvinis Belanda juga merupakan kolonis Eropa pertama yang berhasil di Afrika Selatan pada awal abad ke-17, dan menjadi apa yang dikenal sebagai orang Boer atau Afrikaner.
Sebagian besar wilayah Sierra Leone dihuni oleh para kolonis Calvinis dari Nova Scotia, yang pada umumnya adalah kaum loyalis kulit hitam, yaitu orang-orang kulit hitam yang berperang untuk Britania Raya pada masa Perang Kemerdekaan Amerika.
Sebagian dari gereja-gereja Calvinis yang paling besar dimulai oleh para misionaris abad ke-19 dan abad ke-20, khususnya di Indonesia, Korea dan Nigeria.
 
Riba dan kapitalisme
Sebuah aliran pemikiran telah lama menganggap Calvinisme merupakan revolusi terhadap sikap bermusuhan Abad Pertengahan terhadap riba, dan, secara tidak langsung, keuntungan. Hal ini ikut mempersiapkan berkembangnya kapitalisme di Eropa utara. Hubungan ini dikemukakan dalam karya-karya berpengaruh dari R.H. Tawney dan Max Weber.
Calvin mengungkapkan pikirannya tentang riba dalam sebuah suratnya kepada seorang teman, Oecolampadius. Dalam surat ini, ia mengecam penggunaan ayat-ayat Alkitab tertentu oleh orang-orang yang menentang pemberlakuan bunga uang. Calvin menafsirkan kembali ayat-ayat tersebut dan mengatakan bahwa ayat-ayat yang lainnya sudah tidak relevan lagi mengingat kondisi-kondisi yang telah berubah.
Calvin juga menolak argumen (yang didasarkan pada tulisan-tulisan Aristoteles) bahwa mengambil bunga uang adalah keliru, karena uang sendiri itu mandul. Ia mengatakan bahwa dinding dan atap rumah pun mandul, tetapi orang diizinkan meminta bayaran dari seseorang yang menggunakannya. Dalam cara yang sama, uang pun dapat dimanfaatkan.
Namun demikian, Calvin juga berkata bahwa uang harus dipinjamkan kepada orang-orang yang sangat membutuhkannya, tanpa harus mengharapkan bunga.
 
Jenewa yang diperbarui
Yohanes Calvin

Pada saat perang Ottoman, Yohanes Calvin sedang melakukan perjalanan ke Strasbourg dan melalui kanton-kanton di Swiss. Ketika singgah di Jeneva, William Farel meminta Calvin agar menolongnya dengan urusan gereja. Tentang permohonan Farel ini, Calvin menulis, "Saya merasa seolah-olah Allah sendiri dari surga telah menyuruh saya untuk menghentikan perjalanan saya." Bersama-sama Farel, Calvin berusaha melembagakan sejumlah perubahan dalam pemerintahan kota dan kehidupan keagamaan. Mereka menyusun sebuah buku katekismus dan pengakuan iman; seluruh warga kota itu mereka wajibkan untuk mengakuinya. Dewan kota menolak pengakuan iman Calvin dan Farel, dan pada Januari 1538 mereka mencabut kekuasaan kedua orang ini untuk melakukan ekskomunikasi, sebuah kekuasaan yang mereka anggap penting untuk pekerjaan mereka. Calvin dan Farel menjawabnya dengan memberlakukan larangan umum kepada semua penduduk Jenewa untuk mengikuti Perjamuan Kudus pada kebaktian Paskah. Karena itu, dewan kota pun mengusir mereka dari kota tersebut. Farel pergi ke Neuchâtel, dan Calvin ke Strasbourg.
Selama tiga tahun Calvin melayani sebagai seorang dosen dan pendeta sebuah gereja dari orang-orang Huguenot Prancis di Strasbourg. Pada masa pembuangannya itulah Calvin menikahi Idelette de Bure. Ia juga dipengaruhi oleh Martin Bucer, yang menganjurkan sebuah sistem politik dan struktur gerejawi yang mengikuti pola Perjanjian Baru. Calvin tetap mengikuti perkembangan-perkembangan di Jenewa, dan ketika Jacopo Sadoleto, seorang kardinal Katolik, menulis sebuah surat terbuka kepada dewan kota yang isinya mengajak Jenewa untuk kembali ke Gereja induk (Gereja Katolik Roma), jawaban Calvin atas nama kaum Protestan Jenewa yang sedang mengalami berbagai serangan, menolongnya mendapatkan kembali respek yang telah hilang sebelumnya. Setelah sejumlah pendukung Calvin memenangkan jabatan di Dewan Kota Jenewa, ia diundang kembali ke kota itu pada 1541.
Sekembalinya ke sana, berbekal wewenang untuk menyusun bentuk kelembagaan gereja, Calvin memulai program pembaharuannya. Ia menetapkan empat kategori dalam pelayanan gereja, dengan peranan dan kekuasaan yang berbeda-beda:
• Doktor memegang jabatan dalam ilmu teologi dan pengajaran untuk membangun umat dan melatih orang-orang dalam jabatan-jabatan lain di gereja.
• Pendeta yang bertugas berkhotbah, melayankan sakramen, dan menjalankan disiplin gereja, mengajar, dan memperingatkan umat.
• Diaken mengawasi pekerjaan amal, termasuk pelayanan di rumah sakit dan program-program untuk melawan kemiskinan.
• Penatua yaitu 12 orang awam yang tugasnya adalah melayani sebagai suatu polisi moral. Mereka umumnya mengeluarkan surat-surat peringatan, serta bila perlu menyerahkan para pelanggar ke Konsistori.
Para pengkritik seringkali menganggap Konsistori sebagai lambang pemerintahan teokratis Calvin. Konsistori adalah sebuah peradilan gerejawi yang terdiri atas sejumlah penatua dan pendeat, yang diberikan kuasa untuk mempertahankan ketertiban di dalam gereja dan di antara para anggotanya. Pelanggaran merentang dari menyebarkan doktrin yang salah hingga pelanggaran moral, misalnya berdansa dengan liar dan menyanyi dengan dengan buruk. Bentuk-bentuk penghukuman biasanya lunak -- pelanggar dapat disuruh menghadiri khotbah-khotbah yang disampaikan secara terbuka atau kelas-kelas katekisasi. Perlu diingat konteks geopolitik yang lebih luas dari lembaga ini sebelum kita menilainya. Kaum Protestan pada abad ke-16 seringkali dikenai tuduhan oleh pihak Katolik bahwa mereka menciptakan doktrin-doktrin baru dan bahwa inovasi seperti itu mau tidak mau menyebabkan kemerosotan akhlak dan, pada akhirnya, kehancuran masyarakat itu sendiri. Calvin mengklaim bahwa ia ingin menegakkan legitimasi moral dari gereja yang diperbarui sesuai dengan programnya, namun juga meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan individu, keluarga, dan masyarakat. Dokumentasi yang baru-baru ini ditemukan mengenai jalannya Konsistori memperlihatkan setidak-tidaknya perhatian terhadap kehidupan rumah tangga dan kaum perempuan pada khususnya. Untuk pertama kalinya kaum laki-laki yang serong dihukum sama kerasnya dengan kaum perempuan, dan Konsistori sama sekali tidak memperlihatkan toleransi terhadap pemukulan atau penyiksaan terhadap pasangan (khususnya istri). Peranan Konsistori ini kompleks. Badan ini membantu mentransformasikan Jenewa menjadi kota yang digambarkan oleh reformator Skotlandia John Knox sebagai "sekolah Kristus yang paling sempurna yang pernah ada di muka bumi sejak zaman para Rasul."
Namun demikian, tampaknya Calvin tidak bermaksud menggunakan Konsistori untuk mencapai tujuan-tujuan politiknya dan untuk mempertahankan kontrolnya terhadap kehidupan sipil dan keagamaan di Jenewa. Calvin bergerak dengan cepat untuk menjawab pertanyaan apapun yang diajukan tentang tindakan-tindakannya. Kejadian yang paling menonjol adalah kasus Pierre Ameaux dan Jacques Gruet. Calvin enggan menahbiskan orang-orang Jenewa, karena ia lebih suka memilih pendeta dari arus para imigran Prancis yang masuk ke kota itu dengan maksud semata-mata mendukung program pembaruan Calvin. Ketika Pierre Ameaux mengeluh tentang praktik ini, Calvin menganggapnya sebagai serangan terhadap kewibawaannya sebagai seorang pendeta, dan ia membujuk dewan kota untuk memaksa Ameaux untuk berjalan mengelilingi kota dengan berpakaian rambut dan memohon belas kasihan di lapangan-lapangan terbuka. Jacques Gruet memihak dengan sejumlah keluarga Jenewa lama, yang menentang kekuasaan dan metode-metode Konsistori. Ia dipersalahkan dalam suatu insiden di mana seseorang menempatkan sebuah plakat di salah satu gereja di kota itu, yang berbunyi: "Bila orang telah terlalu banyak menderita, balas dendam pun akan dilakukan." Calvin menyetujui bahwa Gruet disiksa sampai mati, dengan tuduhan bahwa ia telah bersekongkol dengan sebuah komplotan Prancis untuk menyerang kota itu.
Pada 1553, dengan persetujuan Calvin, Michael Servetus (Miguel de Servetus) dijatuhi hukuman mati pada sebuah tiang atas tuduhan menyebarkan ajaran sesat. Servetus dipandang banyak Unitarian sebagai salah seorang pendiri agama mereka. Calvin sendiri meminta dewan - namun gagal - agar hukuman mati itu diubah dari hukuman bakar dengan hukuman mati dengan pedang. Rincian historis dapat ditemukan dalam Schaff [1]. Calvin tetap pada posisinya hingga ia meninggal. Hukuman mati Servetus merupakan sebuah argumen utama yang digunakan untuk menyerang Calvin sejak masa hidupnya hingga sekarang, meskipun sejumlah sejarahwan percaya bahwa "Calvin hanya sial, dan bukannya bersalah besar karena intoleransi di antara para Reformator. Ia dan Servetus adalah orang-orang yang paling banyak diserang pada abad ke-16. Nama baik Calvin telah dijelek-jelekkan, sementara Servetus telah terlalu jauh dibersihkan dari kesalahan jauh melampaui titik tolak abad ke-16, bukan abad ke-19." [2]. Pada 1559 Calvin mendirikan sebuah sekolah untuk mendidik anak-anak serta rumah sakit untuk merawat orang miskin.
Kesehatan Calvin mulai memburuk ketika ia menderita sakit kepala, perdarahan paru-paru, asam urat dan batu ginjal. Kadang-kadang, ia harus digotong ke mimbar. Calvin juga mengalami hal-hal yang mengalihkan perhatiannya. Menurut Beza [3], Calvin hanya makan satu kali sehari selama satu dasawarsa, namun atas nasihat dokternya, ia makan telur dan minum segelas anggur pada tengah hari [4],(meskipun ia seorang yang keras menentang konsumsi alkohol yang berlebihan; lihat Tafsirannya tentang Kejadian 9:20 [5]); rekreasinya hanya terdiri dari jalan kaki setelah makan. Menjelang akhir hayatnya, Calvin berkata kepada teman-temannya yang kuatir tentang kadar kerjanya sehari-hari, "Apa? Apakah kalian ingin aku menganggur apabila Tuhan menemukan aku saat Ia datang kembali kedua kalinya?"
Yohanes Calvin meninggal di Jenewa pada 27 Mei 1564. Ia dikuburkan di Cimetière des Rois dengan sebuah batu nisan yang ditandai semata-mata dengan inisialnya, "J.C", sebagian untuk menghormati permintaannya agar ia dikuburkan di sebuah tempat yang tidak dikenal, tanpa saksi ataupun upacara.
 
Aneka rupa
• Tokoh Calvin dalam komik Calvin and Hobbes karya Bill Watterson dinamai seturut nama Yohanes Calvin. Hal ini konon mencerminkan tokoh cerita itu, seorang anak kecil lelaki, yang percaya tentang predestinasi]] (sebagai pembenaran atas perilakunya), sementara boneka harimaunya memiliki pandangan yang sama seperti pandangan Thomas Hobbes tentang hakikat manusia yang suram.
• Film Hardcore yang muncul tahun 1979 memuat diskusi tentang ajaran Calvin tentang predestinasi dan teori TULIP, yang dijelaskan oleh tokohnya Jake VanDorn (diperankan oleh George C. Scott) kepada Niki, seorang pelacur, sementara ia berusaha mencari anak perempuannya yang melarikan diri di California.
[sunting]
Referensi
• (en) Institutio (Inti Ajaran Agama Kristen) karangan Calvin
• (en) Tafsiran Alkitab Calvin
• (en) Tulisan-tulisan lain dari Calvin dalam Christian Classics Ethereal Library; termasuk khotbah-khotbahnya dalam bahasa Latin dan Prancis, "Tentang Kehidupan Orang Kristen," dan "Tentang Doa."
• (en) Tulisan-tulisan Yohanes Calvin Menjawab Pertanyaan Masa Kini
• (en) History of the Christian Church, Volume VIII: Modern Christianity. The Swiss Reformation. oleh Philip Schaff
• (en) Bainton, Roland (1974). Women of the Reformation in England and France. Boston, MA: Beacon Press. ISBN 0807056499.
• (en) Robert M. Kingdon, "The Geneva Consistory in the Time of Calvin," dalam Calvinism in Europe 1540-1620, Andrew Pettegree et al., eds. Cambridge: Cambridge UP, 1994.
Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Yohanes_Calvin"

AKHIR ZAMAN DAN IMAM MAHDI

AKHIR ZAMAN DAN IMAM MAHDI

Akhir zaman.... Menurut Islam, hal ini merujuk pada satu masa menjelang Hari Kiamat, ketika ajaran Al Qur’an menang dan tersebar luas di seluruh dunia. Nabi Muhammad saw telah memaparkannya secara rinci di banyak hadits. Sepeninggal Nabi, sejumlah besar ulama Islam menambahkan penjelasan tentang urutan terjadinya peristiwa itu. Semua ini mengungkapkan, akhir zaman akan berlangsung melalui sejumlah tahapan peristiwa. Akhir zaman diawali dengan dunia yang penuh kerusakan akibat paham yang mengingkari Allah. Manusia semakin menjauh dari tujuan penciptaannya, dan menjalani hidup dengan kehampaan nilai ruhani dan akhlak buruk. Dihadapkan pada bencana dahsyat, peperangan dan nestapa, manusia pun mencari jawaban atas satu pertanyaan, “Di manakah letak jalan keselamatan?” Di tepi jurang keputusasaan ini, Allah mengirim “wujud ruhaniyah” untuk menyeru umat manusia keluar dari lembah kesesatan dan kekacauan menuju jalan yang benar. Dialah Imam Al Mahdi, yang berarti “seseorang yang memimpin manusia kepada kebenaranhttp://www.harunyahya.com/indo/m_video_detail.php?api_id=3180

 

Gambaran Surga Menurut Islam


Sorga menurut Islam
Sebelum menjelaskan apa itu surga hendaklah kita merenungkan dan memperhatikan ayat yang muhkammat ayat yang terang benderang artinya yakni:

“Tak ada jiwa yang tahu apa yang tersembunyi bagi mereka tentang barang yang menyejukkan mata; ganjaran perbuatan yang merekalakukan”
(32:17). Juga penjelasan Nabi Suci

tentang Surga yakni:
“Allah berfirman: Telah Aku siapkan bagi hamba-Ku yang tulus, sesuatu yang mata belum pernah melihat, dan telinga belum pernah mendengar, dan belum pernah terlintas dalam batin seseorang” (B 59:8).” (Bukhari. 59:8).
berdasarkan 2 dalil diatas nyatalah bahwa Surga adalah hal yang seorangpun tidak pernah tahu, itulah sebabnya Quran Suci menggambarkan kata-kata Surga dengan kata Jannat, Kata jannah berasal dari kata jann artinya menyembunyikan sesuatu hingga tak dapat diamati oleh indria.
Karena itu penjelasan-penjelasan Qur’an Suci dan Nabi Suci berkenaan dengan Jannat(surga) hanyalah sebuah tamsil (perumpamaan)
Perumpamaan Surga yang dijanjikan kepada orang tulus, di dalamnya terdapat sungai dari air yang tak pernah mengalami perubahan” (47:15).
Oleh karena itu, Surga dan segala isinya tak dapat dibayangkan oleh pikiran manusia. Diriwayatkan bahwa Sahabat Ibnu ‘Abbas berkata: “Apa yang ada di Surga tak ada yang sama dengan barang-barang di dunia, kecuali hanya namanya” (RM I, hal. 172). Misalnya zhill (tempat teduh), yang seringkali diungkapkan dalam Qur’an Suci sehubungan dengan kenikmatan Surga; sudah tentu itu bukanlah tempat teduh yang sebenarnya, karena di sana tak ada matahari. Qur’an berfirman: Di sana mereka tak akan melihat matahari dan tak pula hawa dingin yang luar biasa” (76:13). Kata-katanya sama, tetapi artinya berlainan. Menurut Imam Raghib, kata zhill artinya berlimpah-limpah atau perlindungan. Demikian pula rizqi di Surga, ini bukanlah makanan yang menguatkan badan kita. Sebenarnya, shalat itu juga disebut rizqi di dalam 20:131. Buah-buahan di Surga bukan pula seperti buah-buahan di dunia, karena buah-buahan di Surga adalah buah perbuatan manusia. Qur’an berfirman: “Apabila mereka diberi sebagian dari buah-buahan itu, mereka berkata: Inilah yang diberikan kepada kami dahulu” (2:25). Jelas sekali bahwa yang dimaksud di sini ialah buah perbuatan, bukan buah-buahan yang dihasilkan oleh tanah, karena yang tersebut belakangan ini, tak semua orang mukmin diberi, sedangkan yang tersebut di muka, semua orang mukmin diberi. Demikian pula air, susu, madu, bantal, singgasana, pakaian dan perhiasan di Surga, semuanya hanya tamsil belaka, sebagaimana diuraikan di atas (47:15).

H u r (Yang biasa diterjemahkan dengan bidadari)

Di antara berbagai lukisan tentang perempuan di Sorga ada yang disebut hur, yang disebut empat kali di dalam Qur’an Suci, yaitu dalam 44:54; 52:20; 55:72; dan 56:22. Kata hur jamaknya kata ahwar (diterapkan terhadap laki-laki), dan jamaknya kata haura (diterapakan terhadap perempuan). Adapun artinya ialah, orang yang mempunyai mata yang mempunyai ciri-ciri yang disebut hawar (Lane Lexicon). Kata hawar makna aslinya putih bersih (yang melambangkan kesu-cian). Adapun kata haura artinya seorang perempuan yang putih kulitnya, dan mata bagian putihnya, putih jernih sekali, dan mata bagian hitamnya, hitam sekali (Lisanul Arab). Adapun kata ahwar yang diterapkan terhadap laki-laki, selain mempunyai arti tersebut, berarti pula suci dan pikirannya jernih (LL). Sebenarnya, kesucian itulah yang menonjol dari kata hawar tersebut. Oleh karena itu, kata hawar yang berasal dari akar kata yang sama, berarti sahabat sejati dan jujur. Oleh sebab itu, terjemahan kata hur yang paling mendekati kebenaran ialah orang suci. Dalam Qur’an terdapat empat tempat dimana perempuan di Sorga disebut hur. Demikian bunyi ayatnya:

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di tempat yang aman, dalam taman dan air mancur ... dan mereka Kami beri seorang perempuan yang suci (hur) nan indah sebagai teman”(44:51, 54).
Sesungguhnya orang-orang bertaqwa berada di Taman dan kenikmatan ... bersandar di atas singgasana yang berderet-deret, dan mereka Kami beri seorang perempuan suci (hur) nan indah sebagai teman”(52:17-20).
Di dalam Sorga ada perempuan yang baik dan indah ... Perempuan suci (hur) yang tak meninggalkan pavilyun”(55:70-72).
Dan orang-orang yang paling depan adalah yang paling terdepan, mereka itulah yang terdekat kepada Allah. Dalam Taman kenikmatan ... Di atas tahta yang dihias ... Dan perempuan suci yang indah bagaikan mutiara tersembunyi. Ganjaran dari yang mereka lakukan”(56:10-24).

Apakah hur yang masuk Sorga itu perempuan berasal dari isteri orang yang bertaqwa? Isyarat yang diberikan oleh Hadits memang demikian. Kutipan ayat Qur’an yang terakhir membicarakan hur di atas ialah ayat 56:10-24. Pokok pembicaraan ini dilanjutkan dengan kalimat yang berbunyi: “Sesungguhnya Kami menumbuhkan mereka menjadi tumbuhan yang baru, lalu mereka Kami buat perawan yang menawan hati, yang sebaya usianya guna kepentingan orang-orang yang memiliki tangan kanan” (56:35-38). Sehubungan dengan itu, yakni ditumbuhkannya mereka menjadi tumbuhan baru, Nabi Suci bersabda, bahwa yang dimaksud dengan kalimat itu ialah, perempuan yang tua-tua di dunia akan ditumbuhkan menjadi perawan di Akhirat (Tr. 44, tentang Surat 56). Semua perempuan salihah akan ditunjukkan menjadi pertumbuhan yang baru di Akhirat, sehingga mereka akan menjadi perawan yang menawan hati yang sebaya usianya. Keterangan Nabi Suci tersebut, yakni digunakannya kata hur itu untuk melukiskan keadaan perempuan yang akan di-tumbuhkan menjadi pertumbuhan yang baru di Akhirat. Ada satu anekdot yang menceritakan seorang nenek yang menghadap Nabi Suci tatkala beliau sedang duduk di tengah-tengah para Sahabat. Si nenek bertanya kepada Nabi Suci, apakah ia dapat masuk Sorga? Dengan nada gembira Nabi Suci menjawab bahwa di Sorga tak ada nenek-nenek. Dengan perasaan sedih, nenek itu bersiap-siap hendak pergi. Tiba-tiba Nabi Suci menghiburnya dengan sabdanya bahwa semua perempuan akan ditumbuhkan menjadi pertumbuhan baru di Akhirat, sehingga di Sorga tak ada nenek-nenek; lalu beliau mengu-tip ayat tersebut di atas (RM. VIII, hal. 320).

Hur sebagai nikmat Sorga

Kesimpulan yang diperoleh dari Hadits dikuatkan oleh Qur’an Suci. Gambaran tentang hur yang diberikan oleh Qur’an Suci melukiskan bahwa hur itu seorang perempuan yang baik sifatnya, suci kelakuannya, indah rupanya, muda usianya, tak jelalatan mata-nya, cinta kepada suaminya. Andaikan hur itu salah satu bentuk nikmat Sorga, dan bukan perempuan dari dunia ini, namun nikmat itu diperuntukkan bagi laki-laki maupun perempuan. Seperti halnya taman, sungai, susu, madu, buah-buahan dan nikmat-nikmat Sorga lainnya, semua itu diperuntukkan bagi laki-laki maupun perempuan, maka demikian pula hur. Apakah sebenarnya nikmat Sorga itu? Ini tak ada orang yang tahu, tetapi seluruh gambaran Sorga yang diuraikan dalam Qur’an, menolak adanya pengertian bahwa nikmat Sorga itu ada sangkut pautnya dengan kepuasan hawa nafsu. Kini timbullah pertanyaan, mengapa nikmat itu dilukiskan dengan gam-baran perempuan? Jawabannya ialah, karena ganjaran yang akan di-berikan di Sorga itu mempunyai ciri-ciri kesucian dan keindahan, maka jika nikmat itu digambarkan dengan kesucian dan keindahan, itu adalah lambang feminin dan bukan lambang kejantanan atau maskulin.

THE MEANING OF CRITICISM TOPIC

1. THE KNOWLEDGE OF GOD AND OF OURSELVES MUTUALLY CONNECTED. - NATURE OF THIS CONNECTION.

Sections.

1.      The sum of true wisdom, viz., the knowledge of God and of ourselves. Effects of the latter.

2.      Effects of the knowledge of God, in humbling our pride, unveiling our hypocrisy, demonstrating the absolute perfections of God, and our own utter helplessness.

3.      Effects of the knowledge of God illustrated by the examples,

1.      of holy patriarchs;

2.      of holy angels;

3.      of the sun and moon.

1. PENGETAHUAN DARI TUHAN DAN DIRI KITA SATU SAMA LAIN dihubungkan.- SIFAT DARI

    KONEKSI  ini.

 

Sections.

 

1.   Tentang kebijaksanaan yang benar, Pengetahuan dari Tuhan dan tentang diri kita. Akibat yang terakhir.

2.               Pengaruh karena pengetahuan dari Tuhan, dalam keredahan hati kami, memperkenalkan kemunafikan 

      kami, mempertunjukkan kesempurnaan yang absolut tentang Tuhan, dan ketidakberdayaan manusia.

3.   Pengaruh pengetahuan Tuhan yang digambarkan oleh contoh,

1. dari kepala keluarga yang kudus;

2. dari para malaikat yang kudus;

3. dari matahari dan bulan itu.

 

 

2. WHAT IT IS TO KNOW GOD,--TENDENCY OF THIS KNOWLEDGE.

Sections.

1.      The knowledge of God the Creator defined. The substance of this knowledge, and the use to be made of it.

2.      Further illustration of the use, together with a necessary reproof of vain curiosity, and refutation of the Epicureans. The character of God as it appears to the pious mind, contrasted with the absurd views of the Epicureans. Religion defined.

 

 

2. APA ITU TUHAN MENGETAHUI. KECENDERUNGAN DARI PENGETAHUAN INI.

 Sections. 

 

1.   Menegaskan pengetahuan penciptaan dari Allah. Unsur dari pengetahuan ini, dan menggunakan  penggunaan tentangnya.

2.   Ilustrasi lebih lanjut dari penggunaan, bersama-sama dengan suatu teguran yang perlu tentang kecurigaan yang sia-sia, dan sangkalan dari Epicureans . Karakter  seperti itu nampak bagi pemikiran, perbedaan dengan pandangan yang mustahil dari Epicureans itu. Definisi agama.

 

 

 

 

 

 

3. THE KNOWLEDGE OF GOD HAS BEEN NATURALLY IMPLANTED IN THE HUMAN MIND.

Sections

1.      The knowledge of God being manifested to all makes the reprobate without excuse. Universal belief and acknowledgement of the existence of God.

2.      Objection - that religion and the belief of a Deity are the inventions of crafty politicians. Refutation of the objection. This universal belief confirmed by the examples of wicked men and Atheists.

3.      Confirmed also by the vain endeavours of the wicked to banish all fear of God from their minds. Conclusion, that the knowledge of God is naturally implanted in the human mind.

 

 

3. PENGETAHUAN DARI TUHAN TELAH SECARA ALAMI DITANAMKAN PADA PIKIRAN MANUSIA.

 

Section

 

1.   Pengetahuan dari Tuhan dinyatakan untuk membuat semua orang yang terkutuk tanpa pernyataan menyesal. Pengakuan dan Kepercayaan yang universal dari keberadaan Tuhan.

2.   Keberatan- agama itu dan kepercayaan kepada suatu Dewata adalah penemuan politikus yang licik. Sangkalan dari keberatan itu. Kepercayaan universal ini ditetapkan oleh ; misalnya dari orang yang jahat dan Atheists.

3.   Yang ditetapkan juga oleh usaha yang sia-sia dari yang jahat untuk membuang semua ketakutan kepada. Tuhan dari pikiran mereka. Kesimpulan, bahwa pengetahuan dari Tuhan adalah secara alami ditanamkan pada pikiran manusia.

 

 

 

4. THE KNOWLEDGE OF GOD STIFLED OR CORRUPTED, IGNORANTLY OR MALICIOUSLY.

Sections.

1.      The knowledge of God suppressed by ignorance, many falling away into superstition. Such persons, however, inexcusable, because etheir error is accompanied with pride and stubbornness.

2.      Stubbornness the companion of impiety.

3.      No pretext can justify superstition. This proved, first, from reason; and, secondly, from Scripture.

4.      The wicked never willingly come into the presence of God. Hence their hypocrisy. Hence, too, their sense of Deity leads to no good result.

 

4. PENGETAHUAN DARI TUHAN YANG MEMADAMKAN ATAU DIRUSAK, DENGAN KETIDAK-TAHUAN ATAU DENGAN DENDAM.

 

Sections.

 

1.   Pengetahuan dari God/Tuhan yang DIDIAMKAN oleh ketidak-tahuan, banyak orang yang jatuh ke dalam

      takhyul. Para orang seperti (itu), bagaimanapun, tidak dapat dimaafkan, karena juga kesalahan ditemani

      dengan kebanggaan dan sikap keras kepala.

2.   Sikap Keras Kepala sama dengan tidak menghormati.

3.   Tidak (ada) alasan palsu dapat membenarkan takhyul. Ini dibuktikan, dulu, dari alasan; dan, yang kedua,

      dari Kitab injil.

4.   Yang jahat tidak pernah dengan sepenuh hati masuk ke dalam hadirat Tuhan. Karena kemunafikan mereka. Karenanya, juga, pengertian mereka dari Dewata  memimpin ke arah hasil yang tidak baik.

 

 

5. THE KNOWLEDGE OF GOD CONSPICUOUS IN THE CREATION, AND CONTINUAL GOVERNMENT OF THE WORLD.

This chapter consists of two parts:
1. The former, which occupies the first ten sections, divides all the works of God into two great classes, and elucidates the knowledge of God as displayed in each class. The one class is treated of in the first six, and the other in the four following sections;
2. The latter part of the chapter shows, that, in consequence of the extreme stupidity of men, those manifestations of God, however perspicuous, lead to no useful result. This latter part, which commences at the eleventh section, is continued to the end of the chapter.

Sections.

1.      The invisible and incomprehensible essence of God, to a certain extent, made visible in his works.

2.      This declared by the first class of works, viz., the admirable motions of the heavens and the earth, the symmetry of the human body, and the connection of its parts; in short, the various objects which are presented to every eye.

3.      This more especially manifested in the structure of the human body.

4.      The shameful ingratitude of disregarding God, who, in such a variety of ways, is manifested within us. The still more shameful ingratitude of contemplating the endowments of the soul, without ascending to Him who gave them. No objection can be founded on any supposed organism in the soul.

5.      The powers and actions of the soul, a proof of its separate existence from the body. Proofs of the soul's immortality. Objection that the whole world is quickened by one soul. Reply to the objection. Its impiety.

6.      Conclusion from what has been said, viz., that the omnipotence, eternity, and goodness of God, may be learned from the first class of works, i. e., those which are in accordance with the ordinary course of nature.

7.      The second class of works, viz., those above the ordinary course of nature, afford clear evidence of the perfections of God, especially his goodness, justice, and mercy.

8.      Also his providence, power, and wisdom.

9.      Proofs and illustrations of the divine Majesty. The use of them, viz., the acquisition of divine knowledge in combination with true piety.

10.  The tendency of the knowledge of God to inspire the righteous with the hope of future life, and remind the wicked of the punishments reserved for them. Its tendency, moreover, to keep alive in the hearts of the righteous a sense of the divine goodness.

11.  The second part of the chapter, which describes the stupidity both of learned and unlearned, in ascribing the whole order of things, and the admirable arrangements of divine Providence, to fortune.

12.  Hence Polytheism, with all its abominations, and the endless and irreconcilable opinions of the philosophers concerning God.

13.  All guilty of revolt from God, corrupting pure religion, either by following general custom, or the impious consent of antiquity.

14.  Though irradiated by the wondrous glories of creation, we cease not to follow our own ways.

15.  Our conduct altogether inexcusable, the dullness of perception being attributable to ourselves, while we are fully reminded of the true path, both by the structure and the government of the world.

 

 

 

 

 

 

 

5. PENGETAHUAN DARI TUHAN MENARIK PERHATIAN PENCIPTAAN, DAN PEMERINTAH DUNIA TERUS MENERUS.

 

Bab ini terdiri dari dua bagian :

1. Yang terdahulu, Yang menduduki yang pertama sepuluh bagian, membagi semua pekerjaan Allah dalam dua kelas, dan menerangkan pengetahuan dari Allah sebagaimana dalam bagian-bagian itu.

Bagian pertama dibicarakan dalam enam pokok bagian  yang pertama, dan yang lain di yang empat yang mengikuti bagian;

2. Yang belakangan bagian dari bab menunjukkan, bahwa, dalam consekuensi kepada perbedaan yang besar dari ketololan manusia, penjelmaan itu dari Tuhan, bagaimanapun perspicuous, tidak mendorong kearah hasil apapun yang bermanfaat. Yang mana bagian ini, mulai di bagian yang ke sebelas, kemudian dilanjutkan sampai akhir bab ini.

 

Section

 

1.   Tidak kelihatan dan Inti sari yang tidak dapat dimengerti dan tentang Tuhan, sampai tingkat kepastian, kelihatan dalam pekerjaan-Nya.

2.   Penyataan bagian pertama dari karya ini, viz., tindakan mengagumkan dari surga dan bumi, simetri dari tubuh manusia, dan koneksi tentang bagiannya; singkatnya, berbagai yang object yang mana diperkenalkan setiap mata.

3.   Terutama menyatakan di struktur dari tubuh itu.