Search This Blog

December 29, 2009

AKHIR ZAMAN DAN IMAM MAHDI

AKHIR ZAMAN DAN IMAM MAHDI

Akhir zaman.... Menurut Islam, hal ini merujuk pada satu masa menjelang Hari Kiamat, ketika ajaran Al Qur’an menang dan tersebar luas di seluruh dunia. Nabi Muhammad saw telah memaparkannya secara rinci di banyak hadits. Sepeninggal Nabi, sejumlah besar ulama Islam menambahkan penjelasan tentang urutan terjadinya peristiwa itu. Semua ini mengungkapkan, akhir zaman akan berlangsung melalui sejumlah tahapan peristiwa. Akhir zaman diawali dengan dunia yang penuh kerusakan akibat paham yang mengingkari Allah. Manusia semakin menjauh dari tujuan penciptaannya, dan menjalani hidup dengan kehampaan nilai ruhani dan akhlak buruk. Dihadapkan pada bencana dahsyat, peperangan dan nestapa, manusia pun mencari jawaban atas satu pertanyaan, “Di manakah letak jalan keselamatan?” Di tepi jurang keputusasaan ini, Allah mengirim “wujud ruhaniyah” untuk menyeru umat manusia keluar dari lembah kesesatan dan kekacauan menuju jalan yang benar. Dialah Imam Al Mahdi, yang berarti “seseorang yang memimpin manusia kepada kebenaranhttp://www.harunyahya.com/indo/m_video_detail.php?api_id=3180

 

Gambaran Surga Menurut Islam


Sorga menurut Islam
Sebelum menjelaskan apa itu surga hendaklah kita merenungkan dan memperhatikan ayat yang muhkammat ayat yang terang benderang artinya yakni:

“Tak ada jiwa yang tahu apa yang tersembunyi bagi mereka tentang barang yang menyejukkan mata; ganjaran perbuatan yang merekalakukan”
(32:17). Juga penjelasan Nabi Suci

tentang Surga yakni:
“Allah berfirman: Telah Aku siapkan bagi hamba-Ku yang tulus, sesuatu yang mata belum pernah melihat, dan telinga belum pernah mendengar, dan belum pernah terlintas dalam batin seseorang” (B 59:8).” (Bukhari. 59:8).
berdasarkan 2 dalil diatas nyatalah bahwa Surga adalah hal yang seorangpun tidak pernah tahu, itulah sebabnya Quran Suci menggambarkan kata-kata Surga dengan kata Jannat, Kata jannah berasal dari kata jann artinya menyembunyikan sesuatu hingga tak dapat diamati oleh indria.
Karena itu penjelasan-penjelasan Qur’an Suci dan Nabi Suci berkenaan dengan Jannat(surga) hanyalah sebuah tamsil (perumpamaan)
Perumpamaan Surga yang dijanjikan kepada orang tulus, di dalamnya terdapat sungai dari air yang tak pernah mengalami perubahan” (47:15).
Oleh karena itu, Surga dan segala isinya tak dapat dibayangkan oleh pikiran manusia. Diriwayatkan bahwa Sahabat Ibnu ‘Abbas berkata: “Apa yang ada di Surga tak ada yang sama dengan barang-barang di dunia, kecuali hanya namanya” (RM I, hal. 172). Misalnya zhill (tempat teduh), yang seringkali diungkapkan dalam Qur’an Suci sehubungan dengan kenikmatan Surga; sudah tentu itu bukanlah tempat teduh yang sebenarnya, karena di sana tak ada matahari. Qur’an berfirman: Di sana mereka tak akan melihat matahari dan tak pula hawa dingin yang luar biasa” (76:13). Kata-katanya sama, tetapi artinya berlainan. Menurut Imam Raghib, kata zhill artinya berlimpah-limpah atau perlindungan. Demikian pula rizqi di Surga, ini bukanlah makanan yang menguatkan badan kita. Sebenarnya, shalat itu juga disebut rizqi di dalam 20:131. Buah-buahan di Surga bukan pula seperti buah-buahan di dunia, karena buah-buahan di Surga adalah buah perbuatan manusia. Qur’an berfirman: “Apabila mereka diberi sebagian dari buah-buahan itu, mereka berkata: Inilah yang diberikan kepada kami dahulu” (2:25). Jelas sekali bahwa yang dimaksud di sini ialah buah perbuatan, bukan buah-buahan yang dihasilkan oleh tanah, karena yang tersebut belakangan ini, tak semua orang mukmin diberi, sedangkan yang tersebut di muka, semua orang mukmin diberi. Demikian pula air, susu, madu, bantal, singgasana, pakaian dan perhiasan di Surga, semuanya hanya tamsil belaka, sebagaimana diuraikan di atas (47:15).

H u r (Yang biasa diterjemahkan dengan bidadari)

Di antara berbagai lukisan tentang perempuan di Sorga ada yang disebut hur, yang disebut empat kali di dalam Qur’an Suci, yaitu dalam 44:54; 52:20; 55:72; dan 56:22. Kata hur jamaknya kata ahwar (diterapkan terhadap laki-laki), dan jamaknya kata haura (diterapakan terhadap perempuan). Adapun artinya ialah, orang yang mempunyai mata yang mempunyai ciri-ciri yang disebut hawar (Lane Lexicon). Kata hawar makna aslinya putih bersih (yang melambangkan kesu-cian). Adapun kata haura artinya seorang perempuan yang putih kulitnya, dan mata bagian putihnya, putih jernih sekali, dan mata bagian hitamnya, hitam sekali (Lisanul Arab). Adapun kata ahwar yang diterapkan terhadap laki-laki, selain mempunyai arti tersebut, berarti pula suci dan pikirannya jernih (LL). Sebenarnya, kesucian itulah yang menonjol dari kata hawar tersebut. Oleh karena itu, kata hawar yang berasal dari akar kata yang sama, berarti sahabat sejati dan jujur. Oleh sebab itu, terjemahan kata hur yang paling mendekati kebenaran ialah orang suci. Dalam Qur’an terdapat empat tempat dimana perempuan di Sorga disebut hur. Demikian bunyi ayatnya:

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di tempat yang aman, dalam taman dan air mancur ... dan mereka Kami beri seorang perempuan yang suci (hur) nan indah sebagai teman”(44:51, 54).
Sesungguhnya orang-orang bertaqwa berada di Taman dan kenikmatan ... bersandar di atas singgasana yang berderet-deret, dan mereka Kami beri seorang perempuan suci (hur) nan indah sebagai teman”(52:17-20).
Di dalam Sorga ada perempuan yang baik dan indah ... Perempuan suci (hur) yang tak meninggalkan pavilyun”(55:70-72).
Dan orang-orang yang paling depan adalah yang paling terdepan, mereka itulah yang terdekat kepada Allah. Dalam Taman kenikmatan ... Di atas tahta yang dihias ... Dan perempuan suci yang indah bagaikan mutiara tersembunyi. Ganjaran dari yang mereka lakukan”(56:10-24).

Apakah hur yang masuk Sorga itu perempuan berasal dari isteri orang yang bertaqwa? Isyarat yang diberikan oleh Hadits memang demikian. Kutipan ayat Qur’an yang terakhir membicarakan hur di atas ialah ayat 56:10-24. Pokok pembicaraan ini dilanjutkan dengan kalimat yang berbunyi: “Sesungguhnya Kami menumbuhkan mereka menjadi tumbuhan yang baru, lalu mereka Kami buat perawan yang menawan hati, yang sebaya usianya guna kepentingan orang-orang yang memiliki tangan kanan” (56:35-38). Sehubungan dengan itu, yakni ditumbuhkannya mereka menjadi tumbuhan baru, Nabi Suci bersabda, bahwa yang dimaksud dengan kalimat itu ialah, perempuan yang tua-tua di dunia akan ditumbuhkan menjadi perawan di Akhirat (Tr. 44, tentang Surat 56). Semua perempuan salihah akan ditunjukkan menjadi pertumbuhan yang baru di Akhirat, sehingga mereka akan menjadi perawan yang menawan hati yang sebaya usianya. Keterangan Nabi Suci tersebut, yakni digunakannya kata hur itu untuk melukiskan keadaan perempuan yang akan di-tumbuhkan menjadi pertumbuhan yang baru di Akhirat. Ada satu anekdot yang menceritakan seorang nenek yang menghadap Nabi Suci tatkala beliau sedang duduk di tengah-tengah para Sahabat. Si nenek bertanya kepada Nabi Suci, apakah ia dapat masuk Sorga? Dengan nada gembira Nabi Suci menjawab bahwa di Sorga tak ada nenek-nenek. Dengan perasaan sedih, nenek itu bersiap-siap hendak pergi. Tiba-tiba Nabi Suci menghiburnya dengan sabdanya bahwa semua perempuan akan ditumbuhkan menjadi pertumbuhan baru di Akhirat, sehingga di Sorga tak ada nenek-nenek; lalu beliau mengu-tip ayat tersebut di atas (RM. VIII, hal. 320).

Hur sebagai nikmat Sorga

Kesimpulan yang diperoleh dari Hadits dikuatkan oleh Qur’an Suci. Gambaran tentang hur yang diberikan oleh Qur’an Suci melukiskan bahwa hur itu seorang perempuan yang baik sifatnya, suci kelakuannya, indah rupanya, muda usianya, tak jelalatan mata-nya, cinta kepada suaminya. Andaikan hur itu salah satu bentuk nikmat Sorga, dan bukan perempuan dari dunia ini, namun nikmat itu diperuntukkan bagi laki-laki maupun perempuan. Seperti halnya taman, sungai, susu, madu, buah-buahan dan nikmat-nikmat Sorga lainnya, semua itu diperuntukkan bagi laki-laki maupun perempuan, maka demikian pula hur. Apakah sebenarnya nikmat Sorga itu? Ini tak ada orang yang tahu, tetapi seluruh gambaran Sorga yang diuraikan dalam Qur’an, menolak adanya pengertian bahwa nikmat Sorga itu ada sangkut pautnya dengan kepuasan hawa nafsu. Kini timbullah pertanyaan, mengapa nikmat itu dilukiskan dengan gam-baran perempuan? Jawabannya ialah, karena ganjaran yang akan di-berikan di Sorga itu mempunyai ciri-ciri kesucian dan keindahan, maka jika nikmat itu digambarkan dengan kesucian dan keindahan, itu adalah lambang feminin dan bukan lambang kejantanan atau maskulin.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.